✉ award@aisiindonesia.com | 📞 (021) 3905967 | 📞 0821-1363-7770 | Senin – Jumat, 08.00–17.00 WIB
Beranda Tentang Kami / Profil Struktur Organisasi Imparsialitas Layanan Klien 📋 Daftar Klien 🔍 Validasi Sertifikat 🌲 Portal V-Legal Berita Keluhan & Banding Informasi Publik Log In Sign Up
Korporasi

Rismansyah Danasaputra: Menjaga Mutu, Merawat Sistem, dan Tahu Kapan Berhenti

📅 05 Januari 2026  —  ✍ admin

Sumber: Majalah Hortus

Dalam dunia sertifikasi, kepercayaan adalah mata uang paling berharga. Ia tumbuh bukan dari pernyataan keras atau ekspansi agresif, melainkan dari kesabaran, disiplin, dan konsistensi dalam prosedur. Rismansyah Danasaputra telah menjaga prinsip ini selama lebih dari satu dekade.

Perjalanan Karier dan Bergabung dengan Dunia Sertifikasi

Sebelum berkiprah di dunia sertifikasi, Rismansyah telah menapaki jalur karier panjang di sektor kelapa sawit serta berbagai posisi di Kementerian Pertanian RI — termasuk di Direktorat Jenderal Perkebunan, hingga menjabat sebagai Direktur Tanaman Tahunan. Pengalaman inilah yang membentuk perspektif makronya tentang bagaimana komoditas strategis negara harus dikelola secara berkelanjutan.

Ia bergabung dengan dunia sertifikasi ketika organisasi tempatnya bernaung masih dalam tahap rintisan — dengan sumber daya terbatas dan belum memiliki kredensial sertifikasi yang mapan. Namun Rismansyah melihat potensi besar, bukan semata untuk keuntungan, melainkan untuk membangun sistem sertifikasi yang berintegritas.

“Sertifikasi bukan jalan pintas untuk meraih keuntungan. Ia harus dibangun di atas integritas.” — Rismansyah Danasaputra

Visi Strategis: Sertifikasi ISPO

Tak lama setelah bergabung, Rismansyah mengusulkan strategi pivotal: mengembangkan skema sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Saat itu, ISPO belum menjadi arus utama dan banyak lembaga sertifikasi ragu karena persyaratan teknis, hukum, dan tata kelolanya yang ketat.

Namun Rismansyah melihat ISPO sebagai keniscayaan. “Kelapa sawit akan terus mendapat sorotan. Tanpa sertifikasi yang kuat, kita kehilangan legitimasi kita sendiri,” tegasnya. Usulan ini mendapat persetujuan, mendorong reorganisasi sistematis: rekrutmen auditor, pembangunan sistem mutu, dan penyelarasan dengan standar Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Filosofi Operasional: Mutu di Atas Kuantitas

Metodologi yang dibangun Rismansyah membentuk trajektori pertumbuhan yang terukur. Hingga 2025, ratusan perusahaan telah tersertifikasi. Meski moderat dibanding potensi pasar sawit nasional, ia tidak khawatir: “Kita bisa saja mensertifikasi lebih banyak, tapi kapasitas auditor kami terbatas. Kami menolak menekan audit. Mutu lebih utama dari kuantitas.”

Komitmen ini tercermin dalam kepatuhan penuh terhadap regulasi KAN — termasuk audit saksi minimal setiap dua tahun dan surveilans setiap lima tahun. “Regulasi sudah jelas. Kami memilih kepatuhan penuh. Sertifikasi menyangkut kepercayaan publik,” ujarnya.

Warisan dan Pesan Terakhir

Rismansyah meninggalkan jabatannya bukan dengan tuntutan atau drama, melainkan dengan fokus pada sistem institusi yang telah dibangunnya. “Yang penting adalah menjaga sistem yang sudah ada dengan baik. Identitas pemimpin adalah hal kedua,” pesannya.

Ia tidak pergi dengan gemerlap, tetapi meninggalkan sesuatu yang lebih sunyi namun lebih langgeng: struktur tata kelola. Sebuah pengingat bahwa mutu — seperti kepercayaan — bertahan bukan karena ditampilkan, melainkan karena dijaga.

← Kembali ke Berita
Tag: ISPOKepemimpinanSawitSertifikasi